Laki-laki Jawa diharapkan mau memahami beberapa aturan dalam berhubungan dengan wanita, apalagi jika ingin memperistri sang wanita. Selain itu, ada beberapa aturan lain yang perlu dicermati saat bergaul dengan wanita.
Beberapa aturan memperistri wanita menurut Serat Panitibaya sebagai berikut.
| Serat Panitibaya | Terjemahan |
|---|---|
| Kang dhingin sira aja yun, ngalab randhaning kanca, tuwin batur bendara lurah sadulur, agawe salah grahita, toging ngendon aniwasi (Serat Panitibaya, 2) | Pertama, janganlah engkau berhasrat mengambil janda temanmu, pembantumu, juga janda majikanmu, pimpinan atau saudaramu, tindakan ini dapat membuat salah paham, yang akhirnya akan membuat celaka.1 |
| Ingkang kapindo aja, angrabeni ewon aluraning ringgit, sanadyan rupane ayu, mgungkuli Dewi Uma sirna rupa katon melok badhut lugu, tan pakering cacah-cucah, ngilangken wingit niwasi (Serat Panitibaya, 3) | Kedua, janganlah mengawini wanita yang termasuk ronggeng, biar pun wajahnya cantik, melebihi Dewi Uma, tetapi jika sudah tidak berhias lagi, akan terlihat dengan jelas, (ia) seperti badut (orang yang suka ditertawakan) belaka, tanpa takut atau malu-malu berlaku tidak sopan, suatu hal yang dapat menghilangkan wibawa. |
| Kaping telu iku aja, rabi luwih seka papat iku tan becik, yen luwih angrusak kukum, ing sarak karasulan, yen luwiha saka papat madha Ratu, yen akal ngrarenah sarak, nempuh duraka niwasi (Serat Panitibaya, 4) | Ketiga, janganlah kawin hingga lebih dari empat orang, jelas tidak baik, bila berlebih-lebihan, ia akan merusak hukum, melanggar “kerasulan” (adat rasul). Jika lebih dari empat itu berarti melebihi Raja. Kalau akal digunakan untuk merusak peraturan, maka akan durhakalah dan menyebabkan celaka. |
| Kaping pate aja, angrabeni wadon durung sah laki, nadyan pakon bapa Kaum, aja gegampang sarak, aja dupeh empuk lir wpng madung kapuk, yen tan wruh wekasing arja, yen kurang yitna niwasi (Serat Panitibaya, 5) | Keempat, janganlah mengawini wanita yang belum sah perceraiannya dengan suami, walaupun sudah disetujui oleh bapak Kaum. Jangan menganggap mudah peraturan (agama), jangan kau kira asal lunak seperti orang memukul kapas, bila semua itu belum kau ketahui akhir kebenarannya, jika kurang berhati-hati akan sengsara. |
| Kaping lima iku aja, angulihi ngrabeni aja wani, tilas bojone kang mau, wis pegat nir kang talak, aja dumeh durung laki purwanipun, yen tan trang Pangulu ika, yen ginampang aniwasi (Serat Panitibaya, 6) | Kelima, janganlah, berani kembali memulangi atau mengawini, wanita bekas-bekas istrimu, yang telah kau ceraikan tetapi tanpa surat talak. Biar pun dia itu pada dasarnya belum kawin lagi, tetapi bila tidak setahu Penghulu, dan bila hal itu dianggap mudah, akan menjadikan celaka. |
1 Jumeiri Siti Rumijah. 1982. Serat Pinitibaya. Jakarta. Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, hal 9 dan hal 65
Dikutip dari buku “Nrimo ing Pandum” karya Asti Musman
Menang tanpo ngasorake! Ungkapan Jawa ini memiliki arti bahwa kemenangan yang kita inginkan jangan sampai merendahkan orang lain. Menang tanpa menghinakan. Tanpa mempermalukan. Menang dengan . . .
Rasa dalam budaya Jawa mendapat apresiasi yang cukup tinggi. Adanya istilah bawa rasa, angon rasa, rasa pangrasa menunjukkan bahwa orang Jawa sangat peduli pada aspek . . .


