Perang di negeri ini pada 1825-1830 dikenal sebagai Perang Jawa, yakni peperangan antara Belanda melawan orang-orang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Di antara prajurit Pangeran Diponegoro ada yang bernama Abdus Salam. Setelah perang usai, ia berkelana menuju arah timur. Sampailah dia di sebuah desa yang disebut Tambakberas.
Suatu ketika ada rombongan Belanda yang melintasi desa tersebut. Pada saat yang sama, Abdus Salam juga lewat di situ. Tanpa sengaja kendaraan yang ditumpangi Abdus Salam menyalip kendaraan Belanda. Belanda segera menangkap Abdus Salam yang dituduh menghina dan mengejek.
Lalu, salah seorang dari rombongan Belanda ini mendekati Abdus Salam untuk menangkapnya. Namun apa yang terjadi? Baru saja orang Belanda ini mau mendekat, Abdus Salam segera berteriak keras. Teriakannya yang mungkin dibumbui doa-doa ini membuat orang Belanda tersebut terkapar jatuh pingsan. Maka, segera rombongan Belanda ini lari tunggang langgang setelah melihat tindakan Abdus Salam ini.1 1
Nah, sejak saat itu Abdus Salam dikenal dengan sebutan Kiai Shihah. Dalam bahasa Arab, kata shihah berarti “teriakan”. Peristiwa ini menunjukkan bahwa daerah tersebut sedikit banyak telah mengenal Islam. Terbukti mereka tahu bahasa Arabnya “teriak”.
Kiai Shihah inilah yang mendirikan Pesantren Tambakberas Jombang. Dia punya dua orang murid kesayangan yang kemudian diambil menjadi menantu, yaitu Utsman dan Said. Utsman punya menantu bernama Asy’ari dan punya cucu bernama Muhammad Hasyim alias Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Adapun Said punya anak namanya Hasbullah dan punya cucu namanya Abdul Wahab alias KH. A. Wahab Hasbullah. Kiai Hasyim dan Kiai Wahab, keturunan dari Kiai Shihah, adalah dua orang penting di balik berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).
- Saifullah Ma’shum (ed.), KH. Abdul Wahab Chasbullah, Perintis, Pendiri dan Penggerak NU (Jakarta: Panitia Penulisan Buku Sejarah Perjuangan KH. Abdul Whab Chasbullah, 1999), hlm. 27-8. ↩︎
Sumber: buku “Anekdot Kiai” karya M. Solahudin
Bung Karno boleh berkehendak, sedangkan Fatmawati boleh menolak, tapi Tuhan adalah Sang Mutlak. Takdir pun digoreskan sejak dulu yang mengatakan bahwa keduanya akan dipertemukan kembali . . .
Ini merupakan kisah Kiai Saifuddin Zuhri terkait kebijakan Presiden Soekarno yang lebih memilih merampungkan pembangunan Monumen Nasional (Monas) daripada Masjid Istiqlal. Saat itu, sebagai Menteri . . .


