Sebuah kisah mengharukan ini diceritakan oleh seorang wanita yang menjalani kehidupan lebih dari tiga puluh tahun bersama tiga anaknya. Wahidah namanya, suaminya telah meninggal dunia tiga puluh tahun yang lalu.
Suatu ketika, dia ditelepon oleh anak sulungnya yang sudah sukses bahwa dia akan pulang dengan membawa berita buruk. Tentu saja Wahidah menjadi khawatir. Saat ditelepon, dia sudah mendesak anaknya tentang kabar buruk itu. Tetapi, anaknya tetap bersikukuh akan menyampaikan pada saat sudah tiba di rumah.
Ketika tiba di rumah, Wahidah tidak sabar mendengar berita buruk yang dibawa oleh anaknya.
“Ada berita buruk apa?” tanya Wahidah.
“Sebentar, Bu. Aku minum tehnya dulu,” jawab anaknya.
Setelah minum teh, anak sulung Wahidah itu tidak segera bercerita. Dia malah bertanya tentang kabar adik-adiknya.
“Bagaimana adik-adik, Bu?” tanya anaknya.
“Baik. Baik-baik saja. Alhamdulillah. Berita buruknya apa?” kata Wahidah tidak sabar.
“Sabar, Bu!” kata anaknya sambil menghela napas.
“Bagaimana bisa sabar, ayolah katakan!” kata Wahidah semakin tidak sabar.
“Begini, Bu,” kata anaknya. “Saya minta maaf karena tidak meminta izin kepada Ibu.”
“Ya, izin apa?” tanya Wahidah.
“Ibu mau memaafkanku kan?” tanya anaknya.
“Iya, mau. Izin apa dulu? Kamu jangan nakal, mempermainkan perasaan ibu,” kata Wahidah.
“Maafkan saya Ibu, kalau saya mempermainkan perasaan Ibu,” kata anaknya.
“Sudah, sudah. Ayo lekas katakan saja, izin apa yang kamu maksud!”
“Aku, ehm… aku…” kata anaknya.
“Aku apa? Katakan saja! Jangan membuat ibu penasaran!” kata Wahidah.
“Aku telah mendaftarkan Ibu berhaji,” kata anaknya.
Wahidah bergetar hatinya ketika anak sulungnya dengan ikhlas mendaftarkan perjalanan ibadah haji. Ibu yang membesarkan tiga anaknya sendirian itu serasa mendapatkan karunia terbesar dalam hidupnya.
“Bukankah kamu masih membutuhkan uang itu?” kata Wahidah kepada anaknya. “Kamu juga masih tinggal di rumah kontrakan? Bagaimana pula dengan istrimu, apa dia rida, kamu memberikan uang ini kepada ibu?”
“Bu, rumah insya Allah akan dapat dibeli. Istri saya rida uang ini untuk biaya Ibu menunaikan haji ke Mekkah. Ya, mumpung Ibu sehat dan Allah memberikan rezekinya melalui ikhtiar saya.”
“Allahu Akbar!” gumam sang ibu.
Siapa pun akan membuncah perasaan gembira dan harunya karena diberangkatkan haji oleh anaknya. Wahidah langsung memeluk anak sulungnya itu dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Wahidah mengenang kembali bagaimana rasanya ketika sang suami wafat. Pada saat itu, banyak orang yang menyarankan Wahidah untuk menikah lagi. Namun dengan bijak, Wahidah menolak.
“Anak-anak sudah kehilangan ayahnya. Saya tidak mau mereka juga kehilangan ibunya,” kata Wahidah.
Akhirnya, Wahidah membesarkan tiga permata hatinya sendirian. Dia menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Berbagai jenis pekerjaan digelutinya, yang penting halal.
Pekerjaan sebagai perawat yang semula ditekuninya ditinggalkannya. Lalu, Wahidah menjadi penjahit. Pekerjaan itu dipilih agar dapat dikerjakan di rumah sambil menjaga anak-anaknya.
Anaknya yang sulung, berhasil kuliah dan lulus sempurna di universitas ternama. Anak itu menolak pemberian uang dari ibunya. Dia kuliah dan membiayai hidupnya sendiri dengan berdagang. Berdagang apa saja.
Setiap diberi uang oleh ibunya, anak sulung itu menolak dengan halus.
“Berikan saja untuk adik-adik, Bu. Saya sudah dapat beasiswa dan juga sudah punya penghasilan dari berdagang,” katanya.
Setelah lulus kuliah, anak sulungnya diterima bekerja di perusahaan bonafid. Perjalanan kariernya lancar, sehingga menjadi direktur produksi. Wahidah sangat bersyukur dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada anaknya itu.
Walaupun sudah sukses, anak sulungnya tidak lantas lupa kepada ibu dan adik-adiknya. Sekarang, setelah perjalanan yang penuh perjuangan, sang anak itu mewujudkan mimpi ibunya berangkat haji.
Sumber: buku “59 Kisah Keajaiban Haji” karya Muzammil Assydiqi
Terkisahkan ada seseorang yang kaya raya, menjelang usia tuanya beliau wasiat kepada anak lelakinya, “Wahai anakku saya ingin wasiat kepadamu, bahwa saya memiliki uang dua . . .


