Tanggal 3 Mei kemarin akhirnya aku jadi tes IELTS di British Council yang berlokasi di lantai 9 Office 8, SCBD.
Kenapa aku bilang “nyobain”?
… karena aku hanya bermodal nekat tanpa full preparation. Aku selesai kursus Speaking tanggal 10 Maret dan sebenarnya awal April ada niatan untuk ambil real test. Namun, berhubung bulan puasa… rasanya berat untuk traveling dan ikut tes.
Ketimbang ditunda-tunda terus… aku langsung daftar aja deh setelah lebaran. Walau hasilnya mungkin ga maksimal, at least aku sudah dapat experience, mengetahui situasi real-nya dan terutama… mengenal aplikasi yang digunakan, berhubung aku ambil yang computer-delivered.
Speaking
Saat kursus Speaking, tutor menyarankan agar mengambil tes ini secara offline atau tatap muka ketimbang menggunakan video conference. Hal ini berbeda dengan saran tutor sebelumnya saat aku kursus IELTS all skills.
Sejatinya aku merasa lebih nyaman bila dilakukan secara langsung ketimbang daring, tapi ya ga papa nyoba dulu…
Ternyata memang sih di layar ditampilkan cue card untuk Part 2, tapi aku merasa tidak diberikan waktu yang cukup untuk merencanakan jawaban. Menurutku examiner terlalu terburu-buru.
Technical problem is the main issue if we do it online. Dengan waktu yang terbatas, kita tidak bisa sibuk mengatur volume misalnya… yang mungkin harus minta tolong pada petugas. Jadi aku hadapi apa adanya saja supaya tidak membuang waktu.
Untuk sesi ini disediakan waktu 11-14 menit yang terbagi dalam 3 bagian. Kendala yang aku rasakan adalah adanya delay… mungkin kecepatan internetnya kurang. Suara juga terdengar kurang jelas. Aku beberapa kali meminta examiner mengulang pertanyaan.
Saat mengambil kursus Speaking dengan harga yang jauh lebih murah, aku tidak bertanya-tanya terlebih dahulu. Ndilalah dalam satu kelas ada 20 orang… jadi tidak bisa fokus. Hal ini berbeda saat kursus pertama yang semi-private dan ditujukan untuk 4-5 orang. Walau saat itu dalam kelasku hanya ada 3 peserta.
Jadi aku memang merasa kurang maksimal belajarnya sementara kunci untuk Speaking adalah practice and practice.
LRW
Pada saat tes LRW (Listening, Reading and Writing) jika dilakukan lewat komputer memang memudahkan. Terutama saat Writing karena kita bisa menyunting tulisan dengan rapi.
Aplikasi yang digunakan berbeda dengan saat simulasi. Saat sesi Listening aku masih ubyek ngatur tampilan. So, karena kehilangan fokus ada beberapa poin pertanyaan yang aku missed out.
Ini jadi pelajaran bagiku. Nyeting2 harus dilakukan di awal jangan di tengah-tengah.
Jadi, tampilan aplikasi bisa kita set dark theme. Kita juga bisa memilih ukuran dan warna font-nya
Karena sudah punya pengalaman… next, aku sudah punya standar untuk tampilan yang cocok buatku.
Hasil

Skor ini sama dengan hasil saat simulasi kecuali untuk Reading yang melejit di angka 8.5 sehingga overall score-ku mencapai band 7.
Aku yakin sebenarnya aku berpeluang untuk mengejar kuliah di luar negeri. Sebagai gambaran, syarat masuk untuk studi pascasarjana di ANU (Australia National University) adalah IELTS dengan overall score 6.5 dan skor minimal untuk masing-masing skill adalah 6 (referensi). Sementara hasil tesku: masih ada angka di bawah 6 yaitu pada Speaking.
Lagi mikir-mikir, apakah akan ambil kursus lagi untuk skill ini tapi yang privat aja…
Bila dibandingkan dengan peserta lainnya saat kursus… aku sadar bahwa kemampuan Speaking-ku memang ketinggalan. Oleh karena itu, aku tidak mau muluk-muluk dalam mencari universitas.
Yang penting skorku cukup sehingga aku bisa segera ke negara asing dan praktek Speaking langsung melalui interaksi dengan penduduk lokal.
Aku rasa, untuk kasusku itu bakal lebih efektif.
Alhamdulillah, udah enakan. Kemarin udah dibolehin pulang. Adikku ga jadi dateng karena udah ambil cuti pas libur lebaran kemarin. Untung ada sahabatku yang kerja di . . .
Nasib jadi jomblo, ke IGD sendiri. Ini yang ketiga kalinya aku kena serangan sesak nafas, yang terakhir ini parah. Aku ga punya asma, mungkin karena . . .


