Namun, tragedi kepemimpinan sering kali lahir justru karena pengabaian terhadap butir kecil. Dari Louis XIV hingga Soeharto, dari Nicholas II hingga rezim Orde Baru, pola yang sama terlihat jelas: pemimpin yang sibuk dengan proyek besar, ideologi megah, atau retorika politik kerap gagal mendengar keluhan sederhana rakyat. Harga roti, kelangkaan beras, antrean minyak goreng, suara minoritas yang dipinggirkan semuanya tampak sepele, tetapi justru menentukan legitimasi. Lord Acton (1887) telah lama memperingatkan bahwa kekuasaan cenderung korup ketika tidak dikontrol. Dan korupsi terbesar pemimpin bukan sekedar pada harta, tetapi pada kepekaan hati: ketidakmampuan mendengar suara kecil.
Sumber:
- Buku “Sebutir Beras untuk Raja: Filosofi Kepemimpinan dan Kekuatan Kontribusi Kecil” karya Rohani Situmorang dan Galih Prakoso Rizky A
- Gambar
A little logic, won’t hurt… Lagu di atas adalah soundtrack film yang terinspirasi dari buku Steve Harvey, berjudul “Act Like a Lady, Think Like a . . .
Pernah tau sedikit tentang The Marshmellow Test, dan tertarik lebih jauh. Rupanya ada buku tentang ini dan Anies Baswedan pernah mengulas dalam kanal Youtube-nya. Konsep . . .


