Ada satu kisah yang dapat diambil hikmahnya berkenaan dengan hak anak. Seseorang mengadu pada Umar, “Anakku ini berani padaku.” Tanya Umar kepada anak tersebut, “Kau tidak takut kepada Allah? Kau berani kepada ayahmu, karena tidak melakukan kewajibanmu memenuhi hak ayahmu.” Anak itu balik bertanya, “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban, memenuhi hak anak?”
Umar menjawab, “Ada, yaitu (1) memilihkan ibu yang baik, jangan sampai terhina akibat ibunya, (2) memilihkan nama yang baik, (3) mendidik dengan Al-Qur’an (agama Islam).”
Kemudian anak itu berkata. “Demi Allah, dia tidak memilihkan ibu yang baik, dia wanita yang dibeli 400 dirham, itulah ibuku, lalu aku diberi nama “Kelelawar Jantan”, kemudian dia mengabaikan pendidikan Islam bagiku, sampai satu ayat pun aku tidak pernah diajarinya.” Maka Umar menoleh kepada ayah anak itu seraya berkata, “Kau telah durhaka kepada anakmu, sehingga ia berani kepadamu. Pergilah kau!”
Sumber
- Buku “Ibunda: Guru dan Sahabat Menuju Dewasa” karya Maya Mar’atus Shalihah
- Foto
well said View this post on Instagram A post . . .
Islam sangat menjunjung tinggi persoalan nasab atau keturunan. Masyarakat Timur Tengah hingga sekarang mentradisikan untuk menghafal nasab mereka. Bahkan biasanya setiap anak dianjurkan untuk senantiasa . . .


