Meskipun poligami menjadi sebuah “peribadatan” bagi laki-laki dalam tradisi Melayu, buat seorang istri sikapnya tentu jelas, yaitu menolak poligami. Karena pada umumnya perempuan tidak rela cintanya dibagi dua dengan wanita lain. Sebab lainnya untuk menolak poligami, dalam pandangan perempuan Melayu akan muncul masalah-masalah baru. Side effect yang paling nyata, antara lain, kecemburuan yang berkepanjangan, masalah ekonomi, dan terganggunya ketenteraman batin. Namun, karena ini persoalan ajaran dan tradisi, sulit kaum perempuan untuk bertindak tegas, meski kadang-kadang ada juga yang minta cerai.
Dampak poligami pada kehidupan keluarga adalah kecenderungan suami untuk selalu berdusta. Uniknya, buat istri (perempuan Melayu) karena diserang perasaan cemburu, keinginan untuk menghias diri semakin tinggi. Dampak yang paling absolut, terganggunya keharmonisan rumah tangga. Tentu hal ini berekses pada berkurangnya cinta anak pada sang ayah. Dan anak secara psikologis menjadi minder terhadap teman-temannya.
Sumber:
Perbuatan zina mengacaukan segalanya. Baik diri orang yang berzina, keluarganya, saudara-saudaranya, bahkan masyarakat sekitar tempat ia tinggal. Ia merenggut kebahagiaan suatu keluarga yang menjadi cita-cita . . .
“Dari Abdullah bin Abbas r.a. ‘berkata Rasulullah saw., ‘Perempuan yang telah janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, dan perempuan yang masih perawan dimintai izin . . .


