Dalam budaya Madura, jika seorang istri selingkuh, maka hukumannya (istri dan selingkuhannya) adalah dibunuh atau carok karena dianggap aib keluarga. Itulah sebabnya sering kali munculnya carok diakibatkan perselingkuhan. Masyarakat Madura sebagian besar meyakini kekerasan sebagai jalan keluar dari proses sosial. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Wiyata,1 terungkap bahwa mayoritas (60,4%) kasus carok terjadi karena rasa malo yang terkait dengan masalah perempuan sehingga jika orang lain punya persoalan dengan urusan perempuan, maka hal tersebut dianggap menginjak-injak harga dirinya, dan hanya ada satu cara dalam memperbaiki harga diri, yakni “carok”. Tindakan carok yang dilakukan karena motif pelecehan istri tidak hanya mendapatkan izin sosial, tetapi juga dorongan dari lingkungan sekitarnya. Sebagian kiai yang menjadi tokoh sentral dalam masyarakat Madura juga mendukung tindakan carok jika itu dilakukan karena pelecehan terhadap istri.
Perempuan menjadi “milik” si suami sepenuhnya, berada di bawah pengawasannya. Kepemimpinan mutlak ada di tangan suami (laki-laki). Laki-laki berhak menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan karena perempuan adalah miliknya.
- Latif Wiyata, Carok… ↩︎
Sumber:
- buku: “Ulama Perempuan Madura” karya Hasanatul Jannah
- Foto
Putri dari seorang permaisuri sudah pasti mendapat strata yang lebih tinggi dibandingkan putri-putri lainnya, bahkan yang sepantaran sekalipun tetapi lahir dari istri selir. Dalam bahasa . . .
Dilihat dari bentangan sejarahnya, etnik Sunda dicatat sebagai suku yang terlalu lama dan sering dijajah. Sebagaimana diungkap sejarawan, yang pernah menjajah Sunda adalah Portugis, Inggris, . . .


