Perbuatan zina mengacaukan segalanya. Baik diri orang yang berzina, keluarganya, saudara-saudaranya, bahkan masyarakat sekitar tempat ia tinggal. Ia merenggut kebahagiaan suatu keluarga yang menjadi cita-cita hidup setiap manusia. Bahkan Imam Syafi’i berkata, “Zina itu bagaikan utang. Jika engkau lakukan hal itu, istri dan anak-anakmu yang akan membayarnya. Renungkanlah.” Sudah lazim, orang yang berutang ia menikmatinya dan membayar utangnya. Namun perbuatan zina bagaikan seorang yang berutang, lalu ia menikmati hasil utang itu dan yang harus membayar orang lain alias anak-istrinya. Yang dibayar oleh anak istri (atau suami) adalah hilangnya kebahagiaan rumah tangga. Suami istri cekcok, kemudian terjadi perceraian. Anak terlantar, hidup tanpa pengawasan, sehingga ia menjadi brandal dan kriminal. Sang istri yang terkena korban juga pasti mempunyai perasaan sakit hati, sehingga kalau imannya tidak kuat akan melakukan perbuatan yang sama dengan alasan pembalasan. “Emang cuma dia yang bisa melakukannya,” ujarnya sambil melapisi bibirnya dengan lipstik dan memilih-milih baju yang seronok. Maka, rusaklah keluarga yang sudah dengan susah payah dibangunnya.
Sumber:
- Buku: “Kebeningan Hati dan Pikiran” karya Budi Handrianto
- Gambar
“Dari Abdullah bin Abbas r.a. ‘berkata Rasulullah saw., ‘Perempuan yang telah janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, dan perempuan yang masih perawan dimintai izin . . .
A little logic, won’t hurt… Lagu di atas adalah soundtrack film yang terinspirasi dari buku Steve Harvey, berjudul “Act Like a Lady, Think Like a . . .


