Pada saat Orde Baru masih berkuasa, ada beberapa pejabat negara yang berkunjung ke rumah K.H. Abdul Hamid untuk mengajak beliau masuk ke dalam partai pendukung pemerintah. Dengan sikap rendah hati dan tetap menghormati siapa pun yang datang ke rumahnya, Mbah Hamid mempersilahkan mereka untuk duduk. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan mereka menemui beliau, selembar kertas dan sebuah pulpen disodorkan kepada beliau untuk ditandatangani.
Mbah Hamid menerimanya dengan senang hati. Namun, anehnya ketika beliau hendak menggoreskan tanda tangannya di atas surat tersebut, tintanya tidak mau keluar. Berulang kali ganti pulpen, namun tetap saja tintanya tidak mau keluar. Akhirnya Kiai Hamid berkata, “Bukan saya yang tidak mau tanda tangan, tapi bolpoinnya tidak mau.” Itulah Kiai Hamid, beliau menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu ke rumahnya.
disadur dari buku “Kisah-kisah Unik Waliyullah di Tanah Jawa” oleh Nala Karim al-Hammad
Awalnya, beliau adalah gadis keturunan keluarga Imran. Beliau menjadi istri Fir’aun tidak terjadi begitu saja. Fir’aun adalah raja yang lalim di Mesir. Setelah ditinggal istrinya, . . .
Ternyata kisah Ratu Balqis sebelum bertemu Nabi Sulaiman agak serem. Di bawah ini saya tuliskan kisahnya dari buku Untold Story: Ratu Balqis. Dalam riwayat lain, . . .


