Kyai Haji Maimun Zubair (Mbah Moen) pernah bicara soal istri dan bidadari. Bagi Mbah Moen istri dan bidadari itu hal yang berbeda namun saling melengkapi. Ceramah Mbah Moen soal ini dikisahkan ulang oleh Habib Husein Al-Alaydrus, Semarang. Gara-gara ceramah Mbah Moen ini, Habib Husein yang saat sudah usia lanjut belum menikah, akhirnya memutuskan untuk menikah.
Dilaporkan dalam https://www.dutaislam.com (05/10/2019) bahwa Habib Husein Al-Alaydrus Pethekan, Semarang, sampai usianya yang ke 60-an tahun masih saja membujang. Tapi pada suatu kesempatan, sekitar tahun 1985-an, Habib Husain menghadiri undangan akad nikah kakak tertua K.H. Muhajir Madad Salim, Demak, Jawa Tengah.
Di acara pernikahan itu, Mbah Moen yang masih kerabat dekat mempelai perempuan didapuk untuk memberikan mauidhah hasanah. Di antara isi ceramah Mbah Moen dalam mauidhah hasanah-nya itu seperti ini: “Sepasang pengantin itu, kalau sudah didudukkan berdampingan begini, jangan dikira cuma dilihat banyak orang di alam dunia saja. Sepasang pengantin nanti di akhirat juga akan didudukkan berdampingan, bersama-sama masuk ke dalam surga.”
Hanya istri dari alam dunia saja, kata Mbah Moen, yang bisa mendampingi seorang suami duduk di bangsal kencana di surga kelak. Sedangkan bidadari tidak bisa mendampingi. Karenanya, “Istri ibarat makanan pokok, sedangkan bidadari itu cuma snack. Kalau dia butuh bidadari maka bidadari baru dapat melayani. Jika tidak butuh maka bidadari tidak bisa dekat-dekat dengannya.”
Jadi, orang-orang yang meninggal dunia sampai belum sempat menikah maka keadaan mereka tidak sama dengan yang sudah menikah. “Bidadari itu ibarat jajanan. Kamu kok sama sekali tidak makan nasi, dan hanya makan jajanan saja, maka tidak bisa kenyang. Perut malah bisa kembung,” kata Mbah Moen yang langsung disambut tawa oleh hadirin.
Mendengar ceramah Mbah Moen itu, ketika pulang resepsi, Habib Husain Al-Alaydrus langsung berencana menikah. Dalam usia yang sudah memasuki uzur, Habib Husein memilih untuk menikah karena takut kalau nanti di surga dirinya malah cuma dapat kembungnya saja, seperti dawuhnya Mbah Moen tersebut.
Sekitar dari dua tahun dari pernikahannya Habib Husain wafat dalam keadaan sempurna alias sudah beristri di dunia. Harapannya tentu agar tidak sakit kembung di surga nantinya. Atas dasar ini pula para laki-laki yang masih jomblo maupun masih ada kesempatan, masih muda, mampu memberikan nafkah lahir batin namun belum berpasangan, segeralah untuk menikah. Niatkan menikah itu untuk dunia akhirat, dan bukan sekadar untuk pemuas hawa nafsu belaka. Soal kita nanti mendapat bidadari-bidadari di surga itu hanya bonus, itu pun kalau kita memang benar-benar kelak bisa masuk surga.
Harapannya tentu bisa masuk surga. Namun jika belum menikah dalam keadaan jomblo sempurna, belum sempat berkeluarga maka kita akan seperti orang yang hanya mendapatkan bonusnya saja dan tidak mendapatkan hadiah utama.
Disadur dari buku “Mbah Maimun: Kisah-Kisah Kemuliaan Guru Semua Golongan” karya Ustadz H. Makmun Kholil.
Laki-laki Jawa diharapkan mau memahami beberapa aturan dalam berhubungan dengan wanita, apalagi jika ingin memperistri sang wanita. Selain itu, ada beberapa aturan lain yang perlu . . .
Menang tanpo ngasorake! Ungkapan Jawa ini memiliki arti bahwa kemenangan yang kita inginkan jangan sampai merendahkan orang lain. Menang tanpa menghinakan. Tanpa mempermalukan. Menang dengan . . .


