Tembang macapat asmaradana berasal dari kata asmara ‘asmara’ dan dahana ‘api’ yang berarti ‘api asmara’ atau ‘cinta kasih’.
Asmaradana menggambarkan masa di mana manusia dirundung asmara, dimabuk cinta, dilarutkan dalam lautan kasih. Kehidupannya digerakkan oleh motivasi harapan dan asa asmara.
Selain itu, juga dikisahkan cinta pada alam semesta dan cinta kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Adapun gambaran yang lain mengatakan Asmaradana adalah manusia dalam masa menuju dewasa dengan tanda memiliki rasa asmara atau cinta (tresno) terhadap lawan jenis yang kemudian menjadi pasangan yang merupakan kodrat dari Tuhan. Berikut ini ialah contoh dalam tembang asmaradana.
Gegaraning wong akrami,
dudu bandha dudu rupa,
amung ati pawitane,
luput pisan kena pisan,
yen ta gampang luwih gampang,
yen angel angel kalangkung,
tan kena tinumbas arta.
modal dalam pernikahan
bukan harta atau rupa
hanya hati modal utamanya
sekali jadi, jadi selamanya
jika mudah, semakin gampang
jika sulit, sulitnya bukan main
tak bisa ditebus dengan harta
Gegaraning wong akrami ‘modal utama atau bekal untuk membangun kehidupan rumah tangga itu’ dudu bandha dudu rupa ‘bukan harta bukan pula wajah atau penampilan’. Jangan sampai memilih jodoh hanya mengandalkan kecantikan atau ketampanan wajah atau karena kekayaan atau harta benda. Penampilan yang menarik atau kekayaan tidak menjamin bahwa kelak sebuah keluarga akan bahagia. Namun, amung ati pawitane ‘hanya bermodal utama hati’. Apabila memilih calon pendamping hidup, hendaknya memilih yang baik hatinya dan mengerti nilai moral dan agama. Kita juga harus membekali diri dengan hati yang bersih. Berumah tangga itu luput pisan kena pisan ‘sekali pilih untuk selamanya’. Jadi, kita tidak boleh main-main atau coba-coba.
Yen ta gampang luwih gampang ‘apabila berhasil dalam rumah tangga, hidup kita akan berbahagia’. Namun, yen angel, angel kalangkung ‘apabila tidak berhasil atau gagal, kehidupan berumah tangga dapat menyebabkan derita’. Oleh karena itu, tan kena tinumbas arta ‘kebahagiaan dalam sebuah keluarga tak dapat ditukar dengan harta atau benda’.
Disadur dari buku “Filsafat Ku” karya Wafa aldawamy.
Laki-laki Jawa diharapkan mau memahami beberapa aturan dalam berhubungan dengan wanita, apalagi jika ingin memperistri sang wanita. Selain itu, ada beberapa aturan lain yang perlu . . .
Menang tanpo ngasorake! Ungkapan Jawa ini memiliki arti bahwa kemenangan yang kita inginkan jangan sampai merendahkan orang lain. Menang tanpa menghinakan. Tanpa mempermalukan. Menang dengan . . .


