Baru-baru ini aku membaca buku “Biografi 15 Para Kyai” terbitan Majelis Khoir Publishing, Malang. Meski belum selesai kubaca semua namun aku ingin mencatat sebuah hal yang menarik dalam blogku ini.
Kisah ini mengenai visi keumatan K.H. Hasani Nawawie dari Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan:
Menjelang Pemilu tahun 1997, Sidogiri terlibat dalam sebuah polemik di majalah Editor. Adalah Ustadz H. Mahmud Ali Zain yang menjadi jubir Sidogiri ketika itu. Apa yang katanya tentang pemilu? “Berpartai hukumnya haram”. Ada apa Sidogiri dengan pernyataan yang menyentak publik itu? Penegasan itu datang dari K.H. Hasani Nawawie. Tak ada hal lain yang mendorong Kiai menegaskan hal itu kecuali ghirah dan keprihatinan yang sangat kuat melihat fenomena umat. Begitu mudah persatuan umat tercabik-cabik hanya karena fanatisme yang dihembuskan oleh kalangan partai.
Urusan partai betul-betul telah membuat umat ini berada pada pertikaian yang tak tentu ujungnya. Bahkan, kerapkali tokoh umatnya sendiri yang menjadi motor pertikaian itu. Melihat kenyataan bahwa berpartai mengandung potensi sangat kuat dalam tafriq al-jama’ah (memecah belah umat), K.H. Hasani mengharamkan berpartai itu. Masalah berpartai merupakan sarana untuk tanshib al-imamah (memilih pemimpin), maka masih ada (cara lain -red). Berpartai bukan satu-satunya cara untuk memilih pemimpin itu. Bagaimanapun, kata Kiai Hasani, orang berpartai akan menumbuhkan ta’ashhub (fanatisme) dalam hatinya. Ia akan membela partainya tanpa melihat apakah partai itu patuh pada syari’at atau tidak. Fanatisme partai sudah sedemikian lama menjadi penyakit yang menggilas semangat ukhuwah. Politik dan berpartai merupakan motif utama konflik umat secara massal. K.H. Hasani tak kuasa melihat fenomena ini. Pertikaian umat betul-betul menyesakkan ruang dada beliau. “Bagaimana aku akan bertanggung jawab di akhirat terhadap santri-santri Sidogiri yang ikut partai ini dan itu, kemudian saling bertengkar,” dawuhnya suatu ketika kepada H. Thayyib (Ketua Yayasan STIE Malangkucecwara), sahabat dekat beliau.
K.H. Hasani memang sangat konsisten dengan pandangan-pandangan tentang persatuan umat. Tak ada kamus fanatisme terhadap madzhab dan golongan tertentu bagi beliau. Yang terpenting adalah Islam dan berperilaku Islami, bukan golongan ini dan golongan itu atau madzhab ini dan madzhab itu. Solidaritas Islam begitu mengakar pada pandangan dan langkah-langkah beliau.
Dunia Politik di Mata K.H. Hasani
Pernah suatu ketika ada acara Peringatan Tahun Baru Islam yang diselenggarakan GP Ansor di lapangan Sidogiri. Penceramah dalam acara tersebut adalah Habib Muhsin Alatas. Sehabis acara, Muhsin Alatas berniat sowan kepada al-Maghfurlah K.H. Hasani. Ia minta tolong kepada Sudirman (kawan dekat Mas Fuad Noerhasan, keponakan K.H. Hasani) untuk menyampaikan maksudnya kepada beliau. Dengan habib tersebut, karena dikiranya adalah Habib Husein al-Habsyi Malang. Seperti telah menjadi berita hangat di berbagai media, saat itu Habib Husein terlibat dalam percaturan politik yang memanas. Ia memberi statemen akan menghadang Banser dengan pasukan Ikhwanul Muslimin. Statemen ini nyaris mengakibatkan perpecahan antara sesama umat Islam. Ia juga sering berkomentar kepada sesama muslimnya dengan nada cacian (tentang Gus Dur misalnya). K.H. Hasani tidak suka dengan sikap Habib Husein itu kendati sebelumnya beliau cukup dekat. Kiai menolak untuk bertemu dengannya. Ketika dijelaskan bahwa yang akan sowan bukan Habib Husein tapi Habib Muhsin, Kiai Hasani bersedia menerimanya.
Kiai Hasani memang tidak suka dunia politik. Selama hidupnya, beliau tidak pernah mendukung partai apapun di Indonesia. Tapi jika perseteruan politik mengakibatkan pecahnya umat, maka Kiai akan peduli untuk mempersatukan kembali.
A little logic, won’t hurt… Lagu di atas adalah soundtrack film yang terinspirasi dari buku Steve Harvey, berjudul “Act Like a Lady, Think Like a . . .
Pernah tau sedikit tentang The Marshmellow Test, dan tertarik lebih jauh. Rupanya ada buku tentang ini dan Anies Baswedan pernah mengulas dalam kanal Youtube-nya. Konsep . . .


