Kutipan dari buku “Serat Centhini 3: Perjalanan Cebolang Meraih Ilmu Makrifat” karya Agus Wahyudi:
Ki Ajar tersenyum lalu menjawab, “Jika kamu hendak memilih perempuan yang baik dan pantas untuk dijadikan istri, coba kalian renungkan dulu makna bobot, bebet dan bibit. Maksudnya demikian. Bobot itu maksudnya kesejatian wanita. Adapun tanda-tandanya bisa dilihat dari silsilah keturunan ayahnya. Ada tujuh macam tanda dan salah satunya bisa kamu jadikan sebagai syarat pilihan.
Pertama, keturunan bangsawan. Yaitu keturunan para raja Jawa yang semasa hidupnya memiliki kedudukan tinggi. Kedua, keturunan orang beragama yakni keturunan para ulama yang ahli kitab dan ahli maknanya. Ketiga, keturunan pertapa yakni keturunan para pendeta yang gemar melakukan tapa. Keempat, keturunan sujana (orang baik) yakni keturunan orang yang menguasai olah seni budaya, ketajaman rasa, dan kebijaksanaan. Kelima, keturunan orang pandai yaitu keturunan orang pintar dalam segala macam pekerjaan, memiliki kecekatan dan keterampilan. Keenam, keturunan perwira yakni keturunan prajurit yang mahir berperang dan terkenal keberaniannya. Ketujuh, keturunan orang supati, yaitu keturunan petani yang rajin, tangguh, dan patuh.
Berikutnya adalah bebet. Ini adalah syarat bagi orang tua wanita. Hendaknya dipilih wanita dari keturunan sapudya, yakni orang yang banyak harta benda dan suka mendermakan sebagian hartanya kepada orang miskin. Orang yang seperti ini akan beruntung sepanjang hidupnya. Dan terakhir adalah bibit (benih), inilah syarat yang baik bagi wanita untuk dijadikan istri. Hendaknya dipilih wanita yang elok parasnya dan juga memiliki kepandaian.”
Laki-laki Jawa diharapkan mau memahami beberapa aturan dalam berhubungan dengan wanita, apalagi jika ingin memperistri sang wanita. Selain itu, ada beberapa aturan lain yang perlu . . .
Menang tanpo ngasorake! Ungkapan Jawa ini memiliki arti bahwa kemenangan yang kita inginkan jangan sampai merendahkan orang lain. Menang tanpa menghinakan. Tanpa mempermalukan. Menang dengan . . .


