Pada saat Orde Baru masih berkuasa, ada beberapa pejabat negara yang berkunjung ke rumah K.H. Abdul Hamid untuk mengajak beliau masuk ke dalam partai pendukung pemerintah. Dengan sikap rendah hati dan tetap menghormati siapa pun yang datang ke rumahnya, Mbah Hamid mempersilahkan mereka untuk duduk. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan mereka menemui beliau, selembar kertas dan sebuah pulpen disodorkan kepada beliau untuk ditandatangani.
Mbah Hamid menerimanya dengan senang hati. Namun, anehnya ketika beliau hendak menggoreskan tanda tangannya di atas surat tersebut, tintanya tidak mau keluar. Berulang kali ganti pulpen, namun tetap saja tintanya tidak mau keluar. Akhirnya Kiai Hamid berkata, “Bukan saya yang tidak mau tanda tangan, tapi bolpoinnya tidak mau.” Itulah Kiai Hamid, beliau menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu ke rumahnya.
disadur dari buku “Kisah-kisah Unik Waliyullah di Tanah Jawa” oleh Nala Karim al-Hammad
Artikel ini berasal dari majalah Mediakarya No. 54 bulan September 1988 yang masih relevan sampai saat ini. Bagi masyarakat pewayangan, Petruk Dadi Ratu merupakan sebuah . . .
Pada postingan ini saya ingin berbagi pengantar pada buku “DPR Uncensored” karya Dati Fatimah & Mail Sukribo (cetakan kedua, Januari 2009). Saya merasa tulisan ini . . .


