Selama Sutawijaya bertahta, terjadi konflik antara dirinya dengan Ki Ageng Mangir Wanabaya akibat perebutan kekuasaan. Kemudian, atas usul Ki Juru Mertani, Panembahan Senopati melakukan taktik Apus Karma. Taktik Apus Karma merupakan taktik yang dilakukan oleh Panembahan Senopati untuk menghadapi Ki Ageng Wanabaya dengan cara mengirimkan Putri Pembayun, anak sulungnya, untuk menjadi penari tayub. Hal ini bertujuan memikat hati Ki Ageng Mangir. Ki Ageng Mangir yang tertarik kemudian berniat untuk menikahinya. Mau tidak mau ia pun harus menghadap ayah mertuanya, yang tidak lain adalah Panembahan Senopati. Saat Ki Ageng Mangir sungkem kepada Panembahan Senopati, kepalanya kemudian dibenturkan oleh Panembahan Senopati ke singgasana Watu Gilang hingga tewas.
Makam Ki Ageng Mangir berada di Kompleks Makam Kotagede. Makam Ki Ageng Mangir dibuat secara unik, sebagian bangunan makam berada di dalam benteng dan sebagian lainnya berada di luar benteng. Hal ini dikarenakan Ki Ageng Mangir dianggap sebagai musuh, tapi sekaligus anggota kerabat kerajaan Mataram.
Sumber:
- buku “Sultan Agung, Sang Pejuang dan Budayawan dalam Puncak Kekuasaan Mataram” karya Fatimah Purwoko
- Foto
Bung Karno boleh berkehendak, sedangkan Fatmawati boleh menolak, tapi Tuhan adalah Sang Mutlak. Takdir pun digoreskan sejak dulu yang mengatakan bahwa keduanya akan dipertemukan kembali . . .
Ini merupakan kisah Kiai Saifuddin Zuhri terkait kebijakan Presiden Soekarno yang lebih memilih merampungkan pembangunan Monumen Nasional (Monas) daripada Masjid Istiqlal. Saat itu, sebagai Menteri . . .


