Yahya bin Amir At-Taimi berkata, “Seorang lelaki keluar dari rumahnya untuk menunaikan haji. Suatu malam ia mendatangi sumber air, tiba-tiba ada seorang wanita dengan rambut terurai, seketika itu laki-laki tersebut berpaling darinya.
Wanita itu berkata “Kemarilah saja, kenapa kamu berpaling dariku?”
Lelaki tersebut menjawab, “Aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”
Kemudian, wanita tersebut mengambil jilbab dan mengenakannya, lalu berkata, “Sepertinya kamu benar-benar takut kepada Allah! Sesungguhnya yang lebih pantas untuk takut kepada Allah adalah yang ingin menjerumuskanmu dalam maksiat”. Wanita itu pun segera berpaling dan masuk ke salah satu kemah milik orang Arab badui. Lelaki tersebut memperhatikan ke mana wanita itu pergi.
Kata laki-laki tersebut, “Besok paginya aku menemui seseorang lelaki Arab badui untuk menanyakan perihal wanita itu, sambil aku sebutkan ciri-cirinya.”
Lelaki badui menjawab, “Oh, itu anak putriku.”
Aku bertanya, “Apakah engkau membolehkan aku menikahinya?”
Lelaki badui menjawab, “Jika kufu’! Siapa kamu ini?”
Aku menjawab, “Aku adalah lelaki termasuk hamba Allah.”
Lelaki badui menjawab, “Kufu’ lagi mulia. Kapan kamu siap, aku menikahkanmu dengannya?”
Aku jawab, “Persiapkan saja dulu sehingga aku selesai menunaikan ibadah haji.”
“Setelah aku menikahinya, wanita itu aku ajak ke Kufah. Dari wanita itulah aku memperoleh keturunan laki-laki dan perempuan.”
Lelaki tersebut takut terperosok ke dalam maksiat. Benar-benar tidak ada yang menghalanginya untuk menjamah wanita badui itu, selain rasa takut kepada Allah. Oleh karena itu, Allah mengganti dan membalasnya dengan yang lebih baik dan suci, baik di dunia maupun di akhirat, suatu balasan yang setimpal.
Sumber: buku “Bila Amal Dibayar Kontan” karya Sayyid Abdullah Sayyid Abdurrahman Ar-Rifa’i
well said View this post on Instagram A post . . .
Islam sangat menjunjung tinggi persoalan nasab atau keturunan. Masyarakat Timur Tengah hingga sekarang mentradisikan untuk menghafal nasab mereka. Bahkan biasanya setiap anak dianjurkan untuk senantiasa . . .


