Umar bin al-Khathab berkata, “Aku memasuki masjid Kufah, tiba-tiba aku berjumpa dengan Amr bin Maimun al-Audi sedang duduk bersama beberapa orang. Seseorang berkata kepadanya, ‘Ceritakan kepada kami hal paling menakjubkan yang engkau lihat di zaman jahiliah.’ Ia berkata, ‘Ketika aku sedang di ladang keluargaku, aku melihat kera-kera berkumpul. Kulihat seekor kera jantan dan kera betina begitu akrab. Kera betina memasukkan tangannya di bawah kepala kera jantan. Keduanya saling berangkulan. Jika kera lain datang, ia menggodanya.
Kera betina menengadahkan kepala kepadanya, kemudian menyelinapkan tangannya di bawah kepala kera jantan. Setelah itu, dua kera itu pergi tidak terlalu jauh, kemudian kera jantan menggagahinya. Aku melihatnya. Setelah itu, kera betina datang ke tempatnya semula. Ia mulai akan menyelipkan tangannya ke bawah kepala si kera jantan, namun si jantan menyadari itu, maka ia berdiri dan mendatanginya, kemudian mencium duburnya. Setelah itu, ia berteriak. Tidak lama kemudian kera-kera berkerumun. Ia menunjuk mereka, kemudian mereka bubar. Kera yang teridentifikasi itu dibawa oleh mereka ke sebuah tempat berpasir. Mereka kemudian menggali pasir itu, kemudian merajam mereka hingga mati. Jadi, demi Allah, aku telah melihat rajam itu ada sebelum Muhammad diutus.'”
Dalam riwayat Ibnu Mas’ud, maksudku ad-Dimasyqi, bahwa riwayat al-Bukhari di dalam ash-Shahih itu merupakan hikayat yang diceritakan oleh Hushain. Ia berkata, “Aku melihat pada zaman jahiliah seekor kera betina yang disepakati oleh kaum kera telah berzina. Mereka lantas merajamnya. Aku pun ikut merajamnya bersama mereka.”
Sumber:
- Buku “200 Motivasi Nabi & Kisah Inspiratif Pembangun Jiwa” karya as-Samarqandi
- Foto
well said View this post on Instagram A post . . .
Islam sangat menjunjung tinggi persoalan nasab atau keturunan. Masyarakat Timur Tengah hingga sekarang mentradisikan untuk menghafal nasab mereka. Bahkan biasanya setiap anak dianjurkan untuk senantiasa . . .


