Seorang raja mendengar seorang ulama mengatakan: “Pelaku zina, akan diperlakukan seperti apa yang dilakukannya, kepada anak-anaknya atau kepada istrinya”.
Raja tersebut ingin menguji ucapan itu. Ia mempunyai putri yang sangat cantik. Ia titipkan putrinya itu kepada seorang perempuan fakir. Ia menyuruh perempuan itu untuk membawa putrinya berkeliling pasar-pasar dengan wajah terbuka. Ia juga menyuruh untuk membiarkan siapa saja yang mencoba mengganggu putrinya itu. Namun, selama perintah raja itu dilakukan, tidak ada satu pun orang yang berpapasan dengannya, kecuali orang itu menundukkan wajahnya, tidak mau memandang wajah putri itu, karena merasa malu.
Ketika sang putri dikembalikan kepada raja, saat perjalanan dekat dengan pintu istana, seorang lelaki mencegatnya dan mencium putri itu, kemudian segera pergi.
Di hadapan raja, perempuan fakir menceritakan apa yang telah terjadi. Raja itupun bersujud syukur kepada Allah SWT dan berkata: “Segala puji bagi Allah! Aku tidak melakukan sesuatu apapun selama hidupku kecuali hanya satu kali ciuman kepada seorang perempuan. Makanya, perbuatanku dibalas Allah melalui putriku.”
Sumber: buku “77 Kisah Hikmah Pembawa Berkah” yang disusun oleh Abu Hasan Al Mansyuri dari Kitab Al-Jawahir Al-Lu’li’iyah. Kitab yang mensyarahi kitab Al-Arba’in Nawawiyah karya Imam An-Nawawi tersebut disusun oleh Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Jardani Ad-Dimyati yang wafat pada tahun 1331 H.
well said View this post on Instagram A post . . .
Islam sangat menjunjung tinggi persoalan nasab atau keturunan. Masyarakat Timur Tengah hingga sekarang mentradisikan untuk menghafal nasab mereka. Bahkan biasanya setiap anak dianjurkan untuk senantiasa . . .


