Pandangan Sultan Agung tentang wanita dalam Serat Nitipraja:
Sultan Agung berpesan agar seorang pemimpin atau pejabat tidak dekat dengan wanita di dalam istana. Sebab, wanita itu bisa menjadi madu sekaligus racun baginya, sebagaimana yang tersirat dalam bait berikut:
Sampun araket lawan pawestri,
jroning pura yeku madu wisa,
estri purusa kersane,
estri salokanipun,
tirta suda segara geni,
bahni wreksa angarang,
puspa wiguneku,
antya wilewih lwirnira,
tirta banyu sagara wus angarani,
tan wareg dening toya,
agni tan wareg ing kayu a king,
wus pandhita guna kagunanya,
antya wilewih karsane,
myang wiku pandhita gung,
noranana wareg ing ngelmi,
magkana ing wanita,
tan amilih kakung,
kakung tan anampik ing dyah,
wisanipun kakung araket pawestri,
yen tan tajem ing praja.
Artinya:
Jangan dekat dengan wanita di dalam istana,
itu madu (sekaligus) racun,
wanita itu nafsu kehendaknya,
wanita itu perumpamaannya,
bagai air yang menyusutkan lautan api,
api yang membuat kayu menjadi arang,
itu adalah bunga yang pandai,
sangat berlebih perumpamaanmu,
(jika seperti) air,
lautan yang sudah disebut,
namun tidak kenyang oleh air,
api tidak kenyang oleh kayu kering,
seperti halnya pendeta yang sudah pandai,
tetapi berlebih kehendaknya,
demikian juga petapa agung yang tidak ada kenyangnya dalam menuntut ilmu,
demikianlah wanita,
ia tidak memilih laki-laki,
laki-laki tidak menolak wanita,
bahayanya laki-laki apabila dekat dengan wanita,
jika tidak kuat imannya.
Keterangan dari bait tersebut menunjukkan pandangan Sultan Agung tentang wanita dalam kekuasaan. Wanita ibarat madu sekaligus bisa. Wanita dapat mendukung kebaikan dan keberhasilan, tetapi sekaligus dapat menjadi racun yang mengakibatkan kehancuran. Wanita adalah bunga yang indah dan pandai (puspa wiguneku), yang menyenangkan untuk dilihat dan diharapkan kepandaiannya (pemikiran-pemikirannya). Wanita juga mampu menenangkan (seperti air; tirta) sekaligus memberikan semangat (seperti api; agni). Kepandaian dan ketenangan wanita ibarat kepandaian pendeta (wus pandhita guna kagunanya), sedangkan ketenangannya ibarat petapa (wyang wiku pandhita gung). Sebagaimana kodratnya, wanita dan pria harus hidup berdampingan. Dan, sebagai pemimpin, pria harus mempunyai kekuatan iman dan hati dalam mengemban tanggung jawabnya.
Sumber buku “Jagat Batin Sultan Agung: Biografi, Peranan, Laku Spiritual, dan Ajarannya” karya Abimana Gumelar
Laki-laki Jawa diharapkan mau memahami beberapa aturan dalam berhubungan dengan wanita, apalagi jika ingin memperistri sang wanita. Selain itu, ada beberapa aturan lain yang perlu . . .
Menang tanpo ngasorake! Ungkapan Jawa ini memiliki arti bahwa kemenangan yang kita inginkan jangan sampai merendahkan orang lain. Menang tanpa menghinakan. Tanpa mempermalukan. Menang dengan . . .


