Novel Layla Majnun adalah salah satu novel yang menggambarkan seseorang yang menjadi gila karena cinta. Di televisi juga sering diberitakan ada orang-orang yang menjadi gila setelah ditinggalkan kekasihnya. Namun benarkah cinta membuat orang menjadi gila?
Menurut penelitian seorang psikiater dan asisten klinik psikiater di University of California, San Francisco School of Medicine, Dr. Thomas Lewis dalam bukunya A General Theory of Love, jatuh cinta memang bukan merupakan fungsi otak, tetapi itu lebih merupakan fungsi saraf. Itulah sebabnya orang yang sedang jatuh cinta sering melakukan ketololan-ketololan karena otaknya sedang tidak berfungsi.
Pada saat jatuh cinta, bagian otak yang bertugas mengontrol depresi dan analisis, sama sekali tidak bekerja. Sebaliknya bagian otak pengontrol intuisi dan bagian otak yang bekerja merespon obat bekerja dengan aktif. Itulah sebabnya orang-orang yang sedang dimabuk cinta mampu menuliskan puisi-puisi indah dan romantis.
Cinta merupakan sumber inspirasi bagi lahirnya karya seni besar dunia. Salah satu karya monumental Leonardo Da Vinci adalah lukisan Monalisa yang konon katanya objek dalam lukisan tersebut adalah seseorang yang dicintainya.
Secara fisiologis, kondisi orang yang sedang jatuh cinta tidak jauh beda dengan orang yang sedang menderita gangguan mental. Misalnya saja gangguan OCD (Obsessive-Compulsive Disorder).
Si penderita OCD biasanya mempunyai pikiran tertentu yang tidak dapat dilenyapkannya (obsesi) atau melakukan suatu tindakan berulang kali tanpa kendali (kompulsi). Hal ini berarti orang-orang yang sedang jatuh cinta sedang mengalami gangguan mental, dan memang demikian adanya.
Sumber:
- buku “Rational Love” karya Agus Susanto
- Foto
Perbuatan zina mengacaukan segalanya. Baik diri orang yang berzina, keluarganya, saudara-saudaranya, bahkan masyarakat sekitar tempat ia tinggal. Ia merenggut kebahagiaan suatu keluarga yang menjadi cita-cita . . .
“Dari Abdullah bin Abbas r.a. ‘berkata Rasulullah saw., ‘Perempuan yang telah janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, dan perempuan yang masih perawan dimintai izin . . .


